Ada yang mengendap-ngendap mendatangi hati
Tak diundang, namun syahdu menembus batin
Berjuta rasa berhamburan membentuk siluet sebuah memori
Sudah lama aku tak merasakan perasaan ini
Kubiarkan ia mengalir hangat
Merayap mendekati ingatan dimasa lalu
Ah~ ternyata inilah yang bernama rindu
Beberapa waktu yang lalu, aku dan Aci menghadiri Dauroh adik-adik LDK tempatku bernaung dulu. Sengaja hadir karena ingin merasakan aroma dakwah kampus yang sudah lama tertinggal semenjak kaki ini meninggalkan kampus. Taukah engkau aroma dakwah kampus itu? Aroma yang segar seperti aroma tanah basah yang baru tertimpa hujan setelah lama merindu, itu menurutku.
Saat hadir dalam majelis itu, ingatanku melesat pada Maret 2006. Saat itu, akulah peserta Dauroh yang sama seperti adik-adik sekarang yang duduk dikursi peserta ini. Sungguh, wajah-wajah adik adik anggota baru LDK ini begitu menenangkan. Mungkinkah sama menenangkannya seperti wajahku dulu saat menjadi peserta dauroh ini ? Haha.. mungkin saja, aku yang baru bergabung pada dakwah kampus ditahun pertama aku meyandang status mahasiswa, dengan wajah polos dan rasa ingin tahu. Tentu saja wajahku saat itu menenangkan bukan? Ah~ kali ini kamu harus sepakat denganku.
Saat hadir dalam dauroh itu. Pikiranku diobrak-abrik untuk mendekati memori masa lalu. Teringat saudari-saudari yang sama-sama berjuang di dakwah kampus. Dulu, didalam ruangan yang sama kami pernah menjadi peserta, pernah juga menjadi panitia. Penah saling melempar senyum saat yang lain sedang galau, atau tertawa saat ada hal-hal lucu yang terjadi. Tapi yang pasti ada tangis setiap habis muhasabah malam dan kita berpelukan penuh kehangatan. Outbond yang penuh keceriaan. Tiba-tiba ada rindu menjalar diperasaanku. Aku terserang rindu. Rindu akan masa-masa perjuangan dikampus dulu.
Setelah semester akhir, kita sibuk akan tugas akhir. Dan pertemuan kita tidak sesering dulu. Lalu wisuda, dialah yang membawa kita dalam satu kata, perpisahan. Perpisahan itulah yang membawa kalian kembali kekampung masing-masing, atau kalian yang melanjutkan sekolah lagi, atau kalian yang menikah. Ya ampun, masa-masa dakwah kampus itu begitu sebentar. Hanya hitungan hirupan nafas. Dan kini kita sudah punya tujuan masing-masing, sibuk dengan gapaian cita kita, dan semua yang pernah kita jalani di kampus itu semua tinggal kenangan. Dan akhirnya masa-masa itu telah terlewati, mahasiswa.
“Perpisahan yang hakiki itu hanya akan ada ketika kita tidak pernah ingat lagi kepada seseorang. Selama kita masih mengingat dan mengenangnya, berarti tiada perpisahan sama sekali” [Kuntawiaji]
Kini, apa kabar dirimu ukhtiey? Semoga kabar baik itu adalah engkau tetap istiqomah dijalanNya. Aku meminta doa agar aku pun demikian, istiqomah. Aamiin
“Kita akan tetap menjadi saudara dimana pun berada. Tidak ada yang pergi dari hati. Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan. Kalian akan tetap menjadi saudara “ [ Bang Ape dalam Rembulan Tenggelam di Wajah mu]